Selasa, 31 Maret 2020

Tidak Meratapinya ketika Meninggal


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul “Tidak Meratapinya ketika Meninggal” dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul kedua dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul “Mentalqin Orang Tua saat Sakaratul Maut”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Wahai kaum wanita, hindarilah meratapi kedua orang tuamu ketika meninggal. Dalam hadits berikut ini terdapat pelajaran.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra. bahwa Nabi Saw bersabda, “Pada umatku, terdapat 4 kejahiliyahan umat terdahulu yang belum mereka tinggalkan, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratap.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka pada hari kiamat ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter dan pakaian dari api.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Diriwayatkan pula oleh Hakim dengan lafal, “Terdapat empat kejahiliyahan umat yang belum ditinggalkan oleh umatku, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratapi mayat. Orang yang meratap jika tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Kemudian disebutkan dalam suatu hadits bahwa ratapan terhadap orang yang meninggal akan memasukkan setan ke dalam rumah, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. bahwa ia berkata, ‘Orang asing di tempat pengasingan.’ Aku akan menangis dengan meratap, dan aku sudah bersiap menangisinya. Kemudian datang seorang perempuan dari Sha’id yang ingin membantuku dalam menangis dan meratpa, maka Rasulullah Saw datang dan berkata, ‘Apakah kamu ingi memasukkan setan yang telah diusir oleh Allah ke dalam rumah? Rasulullah Saw mengucapkannya dua kali sehingga aku berhenti menangis. Demikian pula bahwa Nabi Muhammad Saw kadang mengambil baiat untuk meninggalkan ratapan, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ummu Athiyah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Saw membaiat kami untuk tidak meratap, dan tidak ada perempuan di antara kami yang melaksanakanya kecuali lima orang, yaitu: Ummu Sulaim, Ummu ‘Ala’, Putri Abu Subrah (istri Mua’adz), dan dua perempuan lainnya. Atau putri Subrah, istri Mu’adz dan seorang perempuan lainnya.”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Kamis, 26 Maret 2020

Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan dari buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Judul diatas merupakan garis besar dari isi buku tersebut, dan terdiri dari bagian judul atau sub judul dengan lebih rinci lagi. Untuk tulisan yang akan saya bagi disini merupakan bagian dari sub judul “Mengantar Pergi ke Alam Baka” yang terdiri dari beberapa judul yang lebih rinci lagi. Judul yang pertama adalah “Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut”, yang isinya adalah sebagai berikut:    
Kami menyebutkan bahwa diantara yang harus dilakukan orang yang hidup terhadap orang yang mengalami sakaratul maut adalah mentalqin dengan ucapan la ilaha illallah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Talqinkanlah orang yang mengalami sakarat di antara kalian dengan la ilaha illallah.” (HR.Muslim).

Juga sabda beliau, “Barang siapa di akhir hidupnya mengucapkan la ilaha illallah, dijamin masuk surga.” (HR. Ahmad)

Kami juga menyebutkan bahwa orang yang hadir, sebaiknya memperbanyak doa terhadap orang yang mengalami sakaratul maut dan terhadap diri mereka. Karena ketika itu malaikat mengamini apa yang mereka ucapkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih Muslim dari Ummu Salamah yang berkata, “Rasulullah mendatangi Abu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dalam keadaan pandangan matanya keatas. Kemudian beliau menutup Abu Salamah, dan berkata, “Sesungguhnya jika ruh dicabut, maka mata memandang ke mana perginya.” Setelah itu terjadi kegaduhan pada keluarga Abu Salamah. Maka Rasulullah berkata, “Janganlah kalian berdoa kecuali dengan doa-doa kebaikan, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Setelah itu beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya bersama dengan orang-orang yang mendapat petunjuk, dan gantilah dirinya dengan seseorang yang lebik baik bagi keluarganya, dan ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam. Luaskanlah kuburnya, dan terangilah kuburannya.” Pada waktu malaikat menyaksikannya.

Untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang saleh, hendaklah mengingat firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, ‘kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu berasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat [41]:30-32)

Demikian pula menenangkan mereka dengan firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus[10]:62-62)
Mereka tidak khawatir terhadap masa depan. Mereka tidak bersedih terhadap yang telah lewat.

Demikian pula untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang Mukmin, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya hamba yang beriman jika hendak meninggal dunia dan akan menghadap akhirat, padanya malaikat turun dari langit dengan wajah yang putih. Wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari Surga hingga mereka duduk sejauh pandangan matanya. Setelah itu malaikat maut darang dan duduk di dekat kepalanya lalu berkata. “Wahai jiwa yang tenang! Keluarlah kepada ampunan dan keridhaan Tuhanmu.’ Ruh itu keluar seperti air yang mengalir dari bibir tempat air minum. Kemudian malaikat maut mengambilnya. Jika malaikat telah mengambilnya, maka dia tidak akan melepaskannya sebentar pun. Kemudian malaikat-malaikat yang lain mengambil ruh tersebut dan meletakannya di dalam kafan dan kotak wewangian. Lalu ruh tersebut keluar dari kotak itu dalam keadaan beraroma misik yang sangat harum dan tidak pernah ada di muka bumi.”
Nabi Muhammad berkata, “Lalu malaikat-malaikat membawanya ke langit. Setiap kali melewati sekumpulan malaikat, mereka berkata, ‘Ruh siapakah yang mengeluarkan aroma wangi ini?’

Malaikat yang membawa ruh berkata, ‘Kepunyaan Fulan bin Fulan.’ Mereka menyebut nama paling bagus yang pernah mereka dengar ketika di dunia. Malaikat yang membawa ruh terus berjalan hingga sampai pada langit dunia. Ketika berada di langit dunia, mereka meminta kepada malaikat penjaga langit untuk dibukakan pintu langit. Lalu malaikat penjaga langit pun membukanya dan mengantarnya ke langit-langit berikutnya, sampai pada langit ketujuh. Lalu Allah Swt berfirman, ‘Tulislah amalan hamba-Ku dalam illiyin (kitab amalan) kemudian kembalikanlah ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah, dan akan mengeluarkan kembali dari tanah.’ Maka ruh itu dikembalikan kepada jasadnya, lalu didatangi oleh dua malaikat dan mendudukkannya. 

Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah Tuhanku’
Malaikat bertanya, ‘Apa agamamu?’
Dia menjawab, ‘Agamaku Islam’
Malaikat bertanya, ‘Siapa Rasul yang diutus kepadamu?’
Dia menjawab, ‘Muhammad Rasul Allah.’
Malaikat bertanya, ‘Siapa yang mengajarimu?’
Dia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah, lalu aku beriman dan percaya padanya.’
Kemudian Allah berseru di langit bahwa hambanya benar, maka berilah permadani dan pakaian dari surga, serta bukakanlah pintu surga baginya. Lalu diberi bau dan keharuman surga, serta kuburannya diluaskan sejauh pandangan mata. Kemudian ia didatangi oleh orang yang berparas gagah, indah pakaiannya, harum baunya lalu berkata,’Aku akan memberikan sebuah kabar gembira yang dapat menyenangkanmu pada hari yang dulu kamu pernah dijanjikan.’
Dia menjawab, ‘Kamu siapa? Datang membawa berita baik.’
Orang yang datang menjawab, ‘ Aku adalah amal baikmu.’
Dia berkata, ‘Ya Allah! Laksanakanlah kiamat hingga aku bisa kembali pada keluarga dan hartaku.’

Adapun jika kematian keluarga mereka karena sakit perut, terbakar, wabah, ditimpa rumah yang roboh, tertabrak mobil lalu mati, atau perempuan yang mati dalam keadaan melahirkan, maka keluarga mereka dapat ditenangkan dengan sabda Rasulullah Saw yang mengatakan, ‘Orang yang mati syahid ada 5, yaitu orang yang meninggal karena wabah, sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Malik dan Abu Daud serta lainnya, dari Jabir bin Atik disebutkan, “Orang yang mati syahid ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah.” Kemudian menyebutkan seperti pada hadits diatas dan menambahkan, “Dan orang yang bernanah pada bagian perut, serta perempuan yang mati karena melahirkan.” (HR. Malik dan Abu Daud)

Adapun jika mati syahid dalam medan perang melawan orang kafir, maka keluarga dapat ditenangkan dengan mengatakan bahwa mereka yang meninggal itu mendapatkan pahala yang besar dan kehidupan yang kekal. Allah Swt berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]:169-171)

Demikian pula firmat Allah Swt, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya,” (Al-Baqarah [2]:154)
Dalam surga terdapat tempat yang mulia serta derajat dan kedudukan yang tinggi. Ruh-ruh para syahid berada dalam paruh burung-burung hijau, bebas bergerak ke mana pun ia kehendaki.

Diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Masruq berkata bahwa kami pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang firman Allah Swt, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran [3]:169). Ibnu Mas’ud menjawab, “Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw dan beliau mengatakan, ‘Ruh mereka berada dalam perut burung yang berwarna hijau, bertengger di atas pelita-pelita yang tergantung di Arasy. Bebas bergerak di surga sesuai keinginannya, kemudian kembali ke pelita tersebut. Setelah itu Tuhan mendatangi mereka lalu berkata, ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Apa lagi yang kami inginkan? Sedangkan kami bebas bergerak di surga sesuai keinginan kami.’ Allah melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka mesti meminta, maka mereka berkata, ‘Wahai Tuhanku! Kami ingin Engkau mengembalikan ruh kami pada jasad kami, sehingga kami bisa berperang di jalan-Mu sekali lagi.’ Ketika Allah melihat tidak ada gunanya memaksa mereka meminta, maka mereka dibiarkan.”

Demikian pula bahwa orang yang mati syahid dapat memberi syafaat terhadap kerabat dan keamanan pada hari kebangkitan dari kubur. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya dari hadis Al Miqdam bin Ma’dikarb berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang yamg mati syahid memperoleh enam hal di sisi Allah, yaitu diampuni dosanya pada langkah pertama, melihat tempatnya di surga, bebas dari siksa kubur, merasa aman pada hari terjadinya huru hara terbesar, diletakkan mahkota permata kewibawaan diatas kepalanya, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan dapat memberi syafaat tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Rabu, 25 Maret 2020

DAFTAR ISI BUKU


A.     MENGANTAR PERGI KE ALAM BAKA

B.      BERBAKTI UNTUK ORANG TUA YANG SUDAH DI ALAM BAKA
2.      Melunasi Hutang Kedua Orang Tua
3.      Umar Mewasiatkan kepada Anaknya untuk Melunasi Hutangnya
4.      Sedekah Jariyah
5.      Sedekah Jariyah yang Paling Utama adalah Memberi Air Minum
6.      Berpuasa untuk Kedua Orang Tua
7.      Menghajikan Kedua Orang Tua
8.      Mengumrohkan Kedua Orang Tua
9.      Menunaikan Nazar Orang Tua
10.  Meminta Keridhaan Musuh
11.  Tidak Berdandan bagi Perempuan Ketika Kedua Orang Tuanya Meninggal
12.  Orang Mukmin Tidak Mewarisi Orang Kafir dan Orang Kafir Tidak Mewarisi Orang Mukmin
13.  Menyambung Silaturahmi dengan Keluarga sahabat Bapak
14.  Menjalin Silaturahmi
15.  Melanjutkan Kebaikan yang Biasa Dilakukan oleh Orang Tua
16.  Mengingat Kebaikan Kedua Orang Tua dan Mengikuti Jalan Orang-Orang Saleh
17.  Menggantikan Posisi Orang Tua
18.  Kesetiaan
19.  Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
20.  Penghormatan Terhadap Orang Tua karena Kebaikan Anaknya
21.  Memperbaiki Apa yang Dirusak oleh Orang Tua
22.  Hukum Berwasiat untuk Kedua Orang Tua
23.  Menutup Aib Kedua Orang Tua
24.  Memberi Hadiah (Bacaan Al-Qur’an) untuk Kedua Orang Tua
25.  Penutup

C.      TUNTUNAN LENGKAP ZIARAH KUBUR (SEBUAH SUPLEMEN)
1.      Arti Penting Ziarah
2.      Adab/Etika Ziarah Kubur
3.      Praktek dan Bacaan Ziarah Kubur
4.      Bacaan Ziarah Kubur Pilihan, Pertama
5.      Bacaan Ziarah Kubur Pilihan, Kedua
6.      Ziarah pada Malam Hari
7.      Doa Tahlil, Doa untuk Ziarah juga

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Senin, 09 Maret 2020

Apa yang Bisa Kita Persembahkan Untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?

gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, mungkin diantara Sahabat terutama yang sudah tidak punya orang tua ada yang merasakan kebingungan apa yang harus dilakukan ketika orang tua sudah wafat. Padahal semasa hidupnya orang tua kita terkadang terabaikan haknya, bahkan mungkin tidak pernah sama sekali kita bisa berbakti pada orang tua. Maka dari itu Saya mencoba ingin membagikan sebuah tulisan yang bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kita yang sudah tidak mempunyai orang tua. Tulisan ini merupakan karangan karya seorang penulis bernama Abu Abdullah Musthafa Bin Al-‘Adawi, yang berjudul “Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?”.

Pada kesempatan ini Saya cuman ingin membagi tulisan pengantar dari seorang penulis terkait buku diatas, yang secara lengkapnya akan saya dibawah ini.

Segala puji bagi Allah. Kita senantiasa memuji dan meminta pertolongan-Nya, juga memohon perlindungan kepada-Nya dari segala keburukan diri dan kejelakan usaha kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selai Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bawa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Banyak diantara orang-orang baik, mulia dan bertaqwa bertanya-tanya, apa yang kita persembahkan kepada orang tua setelah mereka meninggal? Bapak memiliki keutamaan, demikian pula Ibu mempunyai keutamaan. Bapak memiliki hak dan Ibu pun memiliki hak. Mereka telah mendidik dan memelihara kita sejak kecil hingga dewasa, sehingga tidak pantas bagi kita melupakan akan hak dan keutamaan mereka.

Bagaimana kita bisa melupakan hak-hak mereka, sementara hak-hak mereka merupakan hak terbesar setelah hak Allah dan Rasulnya. Bagaimana kita bisa melupakan hak mereka sedang Allah Swt telah berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra : 23)

Demikian pula Allah Swt berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang Ibu-Bapak.” (An-Nisa : 36)
Demikian pula Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang Ibu-Bapak.” (Al-An’am : 151)

Dengan demikian, suatu keharusan untuk berbuat baik kepada orang tua semasa hidupnya maupun setelah nya wafat. Maka, sebagai jawaban atas pertanyaan di atas yakni “Apa yang bisa kita perbuat untuk kedua orang tua setelah keduanya wafat”, saya mengatakan bahwa inilah diantara jalan kebaikan dan perbuatan baik yang sampai pahalanya kepada orang tua dengan seizin Allah. Allah akan mengangkat derajat kedua orang tua dengan kebaikan anaknya, menghapuskan dosanya dan menempatkannya dalam keluasan syuga.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Sabtu, 07 Maret 2020

PENDAHULUAN "PERTAMA NULIS DI BLOG"


gihanaberbagi.blogspot.com. Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Sahabat blogger, pertama yang Saya ingin sampaikan adalah rasa syukur karena bisa memulai menulis di blog ini. Alhamdulillah Saya panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah Swt karena berkat Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, Saya bisa membuat blog dan bisa menulis apapun yang bisa Saya tulis dan berbagi apapun yang bisa Saya bagi, yang penting dengan adanya blog ini bisa membuat hidup lebih bermakna. Bahkan kalau bisa dan berharap seterusnya blog ini ingin menjadi media kebaikan, tentunya yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti Sabda Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Mudah-mudahan dengan hadirnya blog yang Saya buat ini tentunya bisa bermanfaat bagi Sahabat Blogger, sesuai yang di sampaikan dalam hadits tersebut.


Kalau kata peribahasa, “Tak Kenal, Maka Tak Sayang”, ada juga ungkapan yang lain, “Tak Kenal, maka Taaruf”. Hehe.. Tidak ada Salahnya berkenalan terlebih dahulu, biar nanti dapat terjalin pertemanan bahkan bisa menjalin tali persaudaraan. Asal jangan menjalin percintaan ya, karena Saya sudah menikah lho, Hehe..


Perkenalkan nama Saya Friska Natalia, asal dari Palembang, tepatnya Saya tinggal di sebuah Desa yang bernama Pulau Harapan, (mungkin yang kasih nama Desa tersebut sedang punya cita-cita atau harapan yang beragam, saking banyaknya harapan tersebut, bahkan semua orang mungkin harapannya banyak sehingga memerlukan sebuah tempat yang lebih luas sehingga Desa ini dinamakan Pulau Harapan, mungkin dengan nama tersebut harapan mereka kan selalu ada.. Becanda deng.. hehe..).

Kecamatan ditempatku bernama Sembawa, dan Kabupaten nya bernama Banyuasin (ini juga gak tau sebabnya kenapa dikasi nama Banyuasin, apakah mungkin air nya berasa asin? Padahal mah gak asin loh airnya, tawar seperti biasa kok.. Hehe..). Mungkin diantara sahabat blogger mendengar nama tempat tersebut, ada yang merasa aneh? Yah, begitulah nama tempatku. Tempat kelahiranku dari kecil hingga Saya menikah.. Mudah-mudahan ada juga para Sahabat Blogger yang dari daerah sana, sehingga jadi bisa nambah teman bahkan jadi saudara.

Satu hal lagi, ini pertama kali Saya menulis di blog. Jadi pastinya agak kurang percaya diri, perasaan campur aduk, dan tak tahu harus bilang apa. Yang pastinya bilamana dalam konten blog yang Saya buat ini ada kata-kata yang kurang berkenan, Saya minta koreksi dan masukan dari Sahabat Blogger. Pastinya blog ini jauh dari kesempurnaan, dan tidak terlepas dari yang namanya kesalahan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari Sahabat Blogger sangat diharapkan demi kebaikan dan keberlangsungan blog ini.

Akhir kata, Saya ucapkan terimakasih bagi Sahabat Blogger yang sudah berkenan baca tulisan yang sederhana ini, yang jauh dari kata sempurna, yang rentan sekali dengan kesalahan, mohon maaf yang sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Wassalamu’alaikum, Wr., Wb.