Kamis, 26 Maret 2020

Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan dari buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Judul diatas merupakan garis besar dari isi buku tersebut, dan terdiri dari bagian judul atau sub judul dengan lebih rinci lagi. Untuk tulisan yang akan saya bagi disini merupakan bagian dari sub judul “Mengantar Pergi ke Alam Baka” yang terdiri dari beberapa judul yang lebih rinci lagi. Judul yang pertama adalah “Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut”, yang isinya adalah sebagai berikut:    
Kami menyebutkan bahwa diantara yang harus dilakukan orang yang hidup terhadap orang yang mengalami sakaratul maut adalah mentalqin dengan ucapan la ilaha illallah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Talqinkanlah orang yang mengalami sakarat di antara kalian dengan la ilaha illallah.” (HR.Muslim).

Juga sabda beliau, “Barang siapa di akhir hidupnya mengucapkan la ilaha illallah, dijamin masuk surga.” (HR. Ahmad)

Kami juga menyebutkan bahwa orang yang hadir, sebaiknya memperbanyak doa terhadap orang yang mengalami sakaratul maut dan terhadap diri mereka. Karena ketika itu malaikat mengamini apa yang mereka ucapkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih Muslim dari Ummu Salamah yang berkata, “Rasulullah mendatangi Abu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dalam keadaan pandangan matanya keatas. Kemudian beliau menutup Abu Salamah, dan berkata, “Sesungguhnya jika ruh dicabut, maka mata memandang ke mana perginya.” Setelah itu terjadi kegaduhan pada keluarga Abu Salamah. Maka Rasulullah berkata, “Janganlah kalian berdoa kecuali dengan doa-doa kebaikan, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Setelah itu beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya bersama dengan orang-orang yang mendapat petunjuk, dan gantilah dirinya dengan seseorang yang lebik baik bagi keluarganya, dan ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam. Luaskanlah kuburnya, dan terangilah kuburannya.” Pada waktu malaikat menyaksikannya.

Untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang saleh, hendaklah mengingat firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, ‘kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu berasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat [41]:30-32)

Demikian pula menenangkan mereka dengan firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus[10]:62-62)
Mereka tidak khawatir terhadap masa depan. Mereka tidak bersedih terhadap yang telah lewat.

Demikian pula untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang Mukmin, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya hamba yang beriman jika hendak meninggal dunia dan akan menghadap akhirat, padanya malaikat turun dari langit dengan wajah yang putih. Wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari Surga hingga mereka duduk sejauh pandangan matanya. Setelah itu malaikat maut darang dan duduk di dekat kepalanya lalu berkata. “Wahai jiwa yang tenang! Keluarlah kepada ampunan dan keridhaan Tuhanmu.’ Ruh itu keluar seperti air yang mengalir dari bibir tempat air minum. Kemudian malaikat maut mengambilnya. Jika malaikat telah mengambilnya, maka dia tidak akan melepaskannya sebentar pun. Kemudian malaikat-malaikat yang lain mengambil ruh tersebut dan meletakannya di dalam kafan dan kotak wewangian. Lalu ruh tersebut keluar dari kotak itu dalam keadaan beraroma misik yang sangat harum dan tidak pernah ada di muka bumi.”
Nabi Muhammad berkata, “Lalu malaikat-malaikat membawanya ke langit. Setiap kali melewati sekumpulan malaikat, mereka berkata, ‘Ruh siapakah yang mengeluarkan aroma wangi ini?’

Malaikat yang membawa ruh berkata, ‘Kepunyaan Fulan bin Fulan.’ Mereka menyebut nama paling bagus yang pernah mereka dengar ketika di dunia. Malaikat yang membawa ruh terus berjalan hingga sampai pada langit dunia. Ketika berada di langit dunia, mereka meminta kepada malaikat penjaga langit untuk dibukakan pintu langit. Lalu malaikat penjaga langit pun membukanya dan mengantarnya ke langit-langit berikutnya, sampai pada langit ketujuh. Lalu Allah Swt berfirman, ‘Tulislah amalan hamba-Ku dalam illiyin (kitab amalan) kemudian kembalikanlah ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah, dan akan mengeluarkan kembali dari tanah.’ Maka ruh itu dikembalikan kepada jasadnya, lalu didatangi oleh dua malaikat dan mendudukkannya. 

Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah Tuhanku’
Malaikat bertanya, ‘Apa agamamu?’
Dia menjawab, ‘Agamaku Islam’
Malaikat bertanya, ‘Siapa Rasul yang diutus kepadamu?’
Dia menjawab, ‘Muhammad Rasul Allah.’
Malaikat bertanya, ‘Siapa yang mengajarimu?’
Dia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah, lalu aku beriman dan percaya padanya.’
Kemudian Allah berseru di langit bahwa hambanya benar, maka berilah permadani dan pakaian dari surga, serta bukakanlah pintu surga baginya. Lalu diberi bau dan keharuman surga, serta kuburannya diluaskan sejauh pandangan mata. Kemudian ia didatangi oleh orang yang berparas gagah, indah pakaiannya, harum baunya lalu berkata,’Aku akan memberikan sebuah kabar gembira yang dapat menyenangkanmu pada hari yang dulu kamu pernah dijanjikan.’
Dia menjawab, ‘Kamu siapa? Datang membawa berita baik.’
Orang yang datang menjawab, ‘ Aku adalah amal baikmu.’
Dia berkata, ‘Ya Allah! Laksanakanlah kiamat hingga aku bisa kembali pada keluarga dan hartaku.’

Adapun jika kematian keluarga mereka karena sakit perut, terbakar, wabah, ditimpa rumah yang roboh, tertabrak mobil lalu mati, atau perempuan yang mati dalam keadaan melahirkan, maka keluarga mereka dapat ditenangkan dengan sabda Rasulullah Saw yang mengatakan, ‘Orang yang mati syahid ada 5, yaitu orang yang meninggal karena wabah, sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Malik dan Abu Daud serta lainnya, dari Jabir bin Atik disebutkan, “Orang yang mati syahid ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah.” Kemudian menyebutkan seperti pada hadits diatas dan menambahkan, “Dan orang yang bernanah pada bagian perut, serta perempuan yang mati karena melahirkan.” (HR. Malik dan Abu Daud)

Adapun jika mati syahid dalam medan perang melawan orang kafir, maka keluarga dapat ditenangkan dengan mengatakan bahwa mereka yang meninggal itu mendapatkan pahala yang besar dan kehidupan yang kekal. Allah Swt berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]:169-171)

Demikian pula firmat Allah Swt, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya,” (Al-Baqarah [2]:154)
Dalam surga terdapat tempat yang mulia serta derajat dan kedudukan yang tinggi. Ruh-ruh para syahid berada dalam paruh burung-burung hijau, bebas bergerak ke mana pun ia kehendaki.

Diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Masruq berkata bahwa kami pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang firman Allah Swt, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran [3]:169). Ibnu Mas’ud menjawab, “Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw dan beliau mengatakan, ‘Ruh mereka berada dalam perut burung yang berwarna hijau, bertengger di atas pelita-pelita yang tergantung di Arasy. Bebas bergerak di surga sesuai keinginannya, kemudian kembali ke pelita tersebut. Setelah itu Tuhan mendatangi mereka lalu berkata, ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Apa lagi yang kami inginkan? Sedangkan kami bebas bergerak di surga sesuai keinginan kami.’ Allah melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka mesti meminta, maka mereka berkata, ‘Wahai Tuhanku! Kami ingin Engkau mengembalikan ruh kami pada jasad kami, sehingga kami bisa berperang di jalan-Mu sekali lagi.’ Ketika Allah melihat tidak ada gunanya memaksa mereka meminta, maka mereka dibiarkan.”

Demikian pula bahwa orang yang mati syahid dapat memberi syafaat terhadap kerabat dan keamanan pada hari kebangkitan dari kubur. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya dari hadis Al Miqdam bin Ma’dikarb berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang yamg mati syahid memperoleh enam hal di sisi Allah, yaitu diampuni dosanya pada langkah pertama, melihat tempatnya di surga, bebas dari siksa kubur, merasa aman pada hari terjadinya huru hara terbesar, diletakkan mahkota permata kewibawaan diatas kepalanya, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan dapat memberi syafaat tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar