Selasa, 31 Maret 2020

Tidak Meratapinya ketika Meninggal


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul “Tidak Meratapinya ketika Meninggal” dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul kedua dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul “Mentalqin Orang Tua saat Sakaratul Maut”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Wahai kaum wanita, hindarilah meratapi kedua orang tuamu ketika meninggal. Dalam hadits berikut ini terdapat pelajaran.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra. bahwa Nabi Saw bersabda, “Pada umatku, terdapat 4 kejahiliyahan umat terdahulu yang belum mereka tinggalkan, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratap.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka pada hari kiamat ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter dan pakaian dari api.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Diriwayatkan pula oleh Hakim dengan lafal, “Terdapat empat kejahiliyahan umat yang belum ditinggalkan oleh umatku, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratapi mayat. Orang yang meratap jika tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Kemudian disebutkan dalam suatu hadits bahwa ratapan terhadap orang yang meninggal akan memasukkan setan ke dalam rumah, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. bahwa ia berkata, ‘Orang asing di tempat pengasingan.’ Aku akan menangis dengan meratap, dan aku sudah bersiap menangisinya. Kemudian datang seorang perempuan dari Sha’id yang ingin membantuku dalam menangis dan meratpa, maka Rasulullah Saw datang dan berkata, ‘Apakah kamu ingi memasukkan setan yang telah diusir oleh Allah ke dalam rumah? Rasulullah Saw mengucapkannya dua kali sehingga aku berhenti menangis. Demikian pula bahwa Nabi Muhammad Saw kadang mengambil baiat untuk meninggalkan ratapan, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ummu Athiyah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Saw membaiat kami untuk tidak meratap, dan tidak ada perempuan di antara kami yang melaksanakanya kecuali lima orang, yaitu: Ummu Sulaim, Ummu ‘Ala’, Putri Abu Subrah (istri Mua’adz), dan dua perempuan lainnya. Atau putri Subrah, istri Mu’adz dan seorang perempuan lainnya.”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar