Minggu, 12 April 2020

Menguburkan Kedua Orang Tua di samping Kuburan Orang Saleh


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Menguburkan Kedua Orang Tua di samping Kuburan Orang Saleh dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul ketujuh dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Menyalatkan dan Mendoakan Kedua Orang Tua”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Berusahalah agar kedua orang tua dikuburkan di samping kuburan orang saleh atau paling tidak di pekuburan orang-orang saleh. Kaum Muslimin memiliki kuburan khusus, demikian pula halnya dengan orang-orang kafir. Menjelang Musa as wafat, beliau meminta kepada Tuhan agar kuburnya didekatkan ke Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu, karena Baitul Maqdis waktu itu belum ditaklukkannya. Oleh karena itu, ia meminta kepada Allah agar didekatkan padanya.

Demikian pula halnya dengan Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin yang meminta izin kepada Aisyah agar dikuburkan di samping sahabatnya, Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra.
Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Musa as kepada Tuhannya agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah. Ia berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa as. Ketika ia datang padanya, Musa memukulnya hingga matanya tercungkil. Lalu malaikat itu kembali kepada Tuhannya dan berkata, ‘Engkau mengutus aku kepada hamba yang belum mau mati.’ Lalu Allah mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah! Dan katakan padanya agar meletakkan tangganya pada punggung sapi, setiap bulu yang tertutupi tangannya sama dengan satu tahun tambahan usia untuknya.’ Malaikat maut berkata, ‘Kemudian, apa yang terjadi setelah itu, hidup atau mati?’ Allah berfirman, ‘Kemudian mati.’ Maka ketika ajal sudah semakin dekat, Musa meminta kepada Allah agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu. Rasulullah Saw berkata, ‘Kalau saja aku di sana, niscaya akan aku tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan di bawah bukit pasir merah.’”

Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Hamman bin Munabbih, ini diceritakan Abu Hurairah pada kami dari Rasulullah Saw, kemudian menyebutkan haditsnya, bahwa Rasulullah Saw berkata, “Malaikat maut datang kepada Musa kemudian berkata padanya, ‘Penuhilah panggilan Tuhanmu (mati),’Lalu Musa as memukul mata malaikat maut hingga tercungkil. Maka malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengutus aku kepada hamba-Mu yang belum mau mati, dan ia mencungkil mataku.’ Allah mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan padanya, apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup maka letakkan tanganmu pada punggung sapi, dan setiap helai rambut yang ditutup tanganmu maka kamu akan hidup selama setahun.’ Musa berkata, ‘Kemudian apa yang terjadi setlah itu?’ Malaikat berkata, ‘Setelah itu kamu meninggal.’ Maka ketika Musa medekati ajalnya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku! Dekatkan aku pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu.’” Rasulullah Saw berkata, “Demi Allah! Kalau saja aku di sana niscaya akan ku tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan di bawah bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Umar ra agar dikuburkan di samping Rasulullah Saw adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur Amru bin Maimun.
Dalam hadits itu disebutkan bahwa Umar berkata kepada Abdullah bin Umar, “Pergilah kepada Aisyah Ummul Mukminin dan katakan, ‘Umar menyampaikan salam padamu jangan kamu katakan Amirul Mukminin, karena sekarang aku bukan lagi Amirul Mukminin dan katakan bahwa Umar bin Khaththab minta izin untuk dikuburkan bersama dengan kedua sahabatnya.’” Ibnu Umar kemudian mengucapkan salam dan meminta izin, lalu masuk. Ketika itu ia mendapati Aisyah sedang duduk dan menangis. Ibnu Umar kemudian berkata, “Umar bin Khaththab mengucapkan salam padamu, dan minta izin untuk dikuburkan berdampingan dengan sahabatnya.” Aisyah menjawab, “Sebetulnya aku sangat menginginkan untuk diriku, namun hari ini aku akan memberikannya untuk Umar.” Ketika Ibnu Umar kembali dari kediaman Aisyah. Orang-orang berkata bahwa Abdullah bin Umar telah datang. Umar berkata, “Bangunkan aku.” Ia kemudian disandarkan kepada seseorang lalu berkata, “Bagaimana?” Ibnu Umar menjawab, “Seperti yang kamu inginkan wahai Amirul Mukminin. Ia mengizinkan.” Umar berkata, “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku daripada hal itu. Jika aku meninggal maka bawalah aku padanya, kemudian ucapkan salam lalu katakan, ‘Umar bin Khaththab minta izin.’ Jika ia mengizinkanku, maka masukanlah aku dan jika ia menolakku maka bawalah aku ke kuburan kaum Muslimin.’”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar