gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat
blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan
berjudul “Menguburkan
Kedua Orang Tua di samping Kuburan Orang Saleh” dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang
Tua yang Sudah Wafat?.
Tulisan ini merupakan judul ketujuh dari bagian
pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah
tulisan yang berjudul “Menyalatkan dan Mendoakan Kedua Orang Tua”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.
Berusahalah agar kedua orang tua dikuburkan di
samping kuburan orang saleh atau paling tidak di pekuburan orang-orang saleh.
Kaum Muslimin memiliki kuburan khusus, demikian pula halnya dengan orang-orang
kafir. Menjelang Musa as wafat, beliau meminta kepada Tuhan agar kuburnya
didekatkan ke Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu, karena Baitul
Maqdis waktu itu belum ditaklukkannya. Oleh karena itu, ia meminta kepada Allah
agar didekatkan padanya.
Demikian pula halnya dengan Umar bin Khaththab,
Amirul Mukminin yang meminta izin kepada Aisyah agar dikuburkan di samping
sahabatnya, Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra.
Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Musa as
kepada Tuhannya agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan
batu, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah. Ia
berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa as. Ketika ia datang padanya,
Musa memukulnya hingga matanya tercungkil. Lalu malaikat itu kembali kepada
Tuhannya dan berkata, ‘Engkau mengutus aku kepada hamba yang belum mau mati.’
Lalu Allah mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah! Dan katakan
padanya agar meletakkan tangganya pada punggung sapi, setiap bulu yang tertutupi
tangannya sama dengan satu tahun tambahan usia untuknya.’ Malaikat maut
berkata, ‘Kemudian, apa yang terjadi setelah itu, hidup atau mati?’ Allah
berfirman, ‘Kemudian mati.’ Maka ketika ajal sudah semakin dekat, Musa meminta
kepada Allah agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan
batu. Rasulullah Saw berkata, ‘Kalau saja aku di sana, niscaya akan aku
tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan di bawah bukit pasir merah.’”
Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur
Hamman bin Munabbih, ini diceritakan Abu Hurairah pada kami dari Rasulullah
Saw, kemudian menyebutkan haditsnya, bahwa Rasulullah Saw berkata, “Malaikat
maut datang kepada Musa kemudian berkata padanya, ‘Penuhilah panggilan Tuhanmu
(mati),’Lalu Musa as memukul mata malaikat maut hingga tercungkil. Maka
malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengutus
aku kepada hamba-Mu yang belum mau mati, dan ia mencungkil mataku.’ Allah
mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah kepada hamba-Ku dan
katakan padanya, apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup maka letakkan
tanganmu pada punggung sapi, dan setiap helai rambut yang ditutup tanganmu maka
kamu akan hidup selama setahun.’ Musa berkata, ‘Kemudian apa yang terjadi setlah
itu?’ Malaikat berkata, ‘Setelah itu kamu meninggal.’ Maka ketika Musa medekati
ajalnya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku! Dekatkan aku pada Baitul Maqdis dengan
jarak sejauh lemparan batu.’” Rasulullah Saw berkata, “Demi Allah! Kalau saja
aku di sana niscaya akan ku tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan
di bawah bukit pasir merah.” (HR. Muslim)
Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Umar ra
agar dikuburkan di samping Rasulullah Saw adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari melalui jalur Amru bin Maimun.
Dalam hadits itu disebutkan bahwa Umar berkata
kepada Abdullah bin Umar, “Pergilah kepada Aisyah Ummul Mukminin dan katakan,
‘Umar menyampaikan salam padamu jangan kamu katakan Amirul Mukminin, karena
sekarang aku bukan lagi Amirul Mukminin dan katakan bahwa Umar bin Khaththab
minta izin untuk dikuburkan bersama dengan kedua sahabatnya.’” Ibnu Umar
kemudian mengucapkan salam dan meminta izin, lalu masuk. Ketika itu ia
mendapati Aisyah sedang duduk dan menangis. Ibnu Umar kemudian berkata, “Umar
bin Khaththab mengucapkan salam padamu, dan minta izin untuk dikuburkan
berdampingan dengan sahabatnya.” Aisyah menjawab, “Sebetulnya aku sangat
menginginkan untuk diriku, namun hari ini aku akan memberikannya untuk Umar.”
Ketika Ibnu Umar kembali dari kediaman Aisyah. Orang-orang berkata bahwa
Abdullah bin Umar telah datang. Umar berkata, “Bangunkan aku.” Ia kemudian
disandarkan kepada seseorang lalu berkata, “Bagaimana?” Ibnu Umar menjawab,
“Seperti yang kamu inginkan wahai Amirul Mukminin. Ia mengizinkan.” Umar
berkata, “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku
daripada hal itu. Jika aku meninggal maka bawalah aku padanya, kemudian ucapkan
salam lalu katakan, ‘Umar bin Khaththab minta izin.’ Jika ia mengizinkanku,
maka masukanlah aku dan jika ia menolakku maka bawalah aku ke kuburan kaum
Muslimin.’”
Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.
Bandung: Pustaka Iiman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar