Jumat, 22 Mei 2020

Mengikutsertakan Mereka dalam Doa


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, sebelumnya saya ucapkan mohon maaf sudah sebulan lebih blog ini belum di update, dikarenakan ada sesuatu hal yang sifatnya urgent yang tak bisa di tunda. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan dari buku yang sama sebelumnya sudah Saya bagikan, yakni buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan yang akan saya bagikan disini merupakan bagian dari sub judul ke dua “Berbakti untuk Orang Tua yang Sudah di Alam Baka” yang terdiri dari beberapa judul yang lebih rinci lagi. Judul yang pertama adalah “Mengikutsertakan Mereka dalam Doa”, yang isinya adalah sebagai berikut:    

Nabi Nuh as pernah berdoa memintakan ampunan untuk kedua orang tuanya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Nuh[71]:28)

Allah Swt juga menganjurkan untuk mendoakan kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, “Ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagai mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra[17]:24)
Nabi Saw bersabda, “jika seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali melalui tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Nabi Saw bersabda, “Allah azza wajalla akan mengangkat derajat di syurga bagi hamba yang saleh, lalu ia (hamba) berkata, ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Lalu Allah berfirman, ‘Dari permintaan ampunan anakmu bagimu.’” (HR. Ahmad)

Karena itu, hendaklah seseorang mengikutsertakan orang tua dalam doanya. Ia mendoakan untuk kedua orang tuanya seperti ia mendoakan dirinya sendiri, memintakan ampun untuk kedua orang tua seperti meminta ampun untuk dirinya sendiri.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Sabtu, 18 April 2020

Memintakan Ampun bagi Orang Tua setelah Menguburkannya


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Memintakan Ampun bagi Orang Tua setelah Menguburkannya dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul kedelapan dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Menguburkan OrangTua di samping Kuburan Orang Saleh”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Selesai prosesi pemakaman, maka berdirilah dan mintakan ampunan kepada Allah untuk yang meninggal, serta keteguhan baginya. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan dari Amirul Mukminin, Ustman bin Affan ra, ia berkata bahwa Nabi Saw jika selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri seraya berkata, “Mintakanlah ampunan untuk saudaramu, dan mintakanlah keteguhan karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (HR. Abu Daud)
Kami ingatkan kembali kepada orang-orang yang tidak sempat berbuat baik kepada kedua orang tua semasa hidupnya, sesungguhnya jalan dan pintu kebaikan masih terbuka, dan Tuhanmu Maha Pengampun terhadap hamba-Nya yang bertaubat.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iman

Minggu, 12 April 2020

Menguburkan Kedua Orang Tua di samping Kuburan Orang Saleh


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Menguburkan Kedua Orang Tua di samping Kuburan Orang Saleh dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul ketujuh dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Menyalatkan dan Mendoakan Kedua Orang Tua”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Berusahalah agar kedua orang tua dikuburkan di samping kuburan orang saleh atau paling tidak di pekuburan orang-orang saleh. Kaum Muslimin memiliki kuburan khusus, demikian pula halnya dengan orang-orang kafir. Menjelang Musa as wafat, beliau meminta kepada Tuhan agar kuburnya didekatkan ke Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu, karena Baitul Maqdis waktu itu belum ditaklukkannya. Oleh karena itu, ia meminta kepada Allah agar didekatkan padanya.

Demikian pula halnya dengan Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin yang meminta izin kepada Aisyah agar dikuburkan di samping sahabatnya, Rasulullah Saw dan Abu Bakar ra.
Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Musa as kepada Tuhannya agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah. Ia berkata, “Malaikat maut diutus kepada Musa as. Ketika ia datang padanya, Musa memukulnya hingga matanya tercungkil. Lalu malaikat itu kembali kepada Tuhannya dan berkata, ‘Engkau mengutus aku kepada hamba yang belum mau mati.’ Lalu Allah mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah! Dan katakan padanya agar meletakkan tangganya pada punggung sapi, setiap bulu yang tertutupi tangannya sama dengan satu tahun tambahan usia untuknya.’ Malaikat maut berkata, ‘Kemudian, apa yang terjadi setelah itu, hidup atau mati?’ Allah berfirman, ‘Kemudian mati.’ Maka ketika ajal sudah semakin dekat, Musa meminta kepada Allah agar didekatkan pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu. Rasulullah Saw berkata, ‘Kalau saja aku di sana, niscaya akan aku tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan di bawah bukit pasir merah.’”

Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Hamman bin Munabbih, ini diceritakan Abu Hurairah pada kami dari Rasulullah Saw, kemudian menyebutkan haditsnya, bahwa Rasulullah Saw berkata, “Malaikat maut datang kepada Musa kemudian berkata padanya, ‘Penuhilah panggilan Tuhanmu (mati),’Lalu Musa as memukul mata malaikat maut hingga tercungkil. Maka malaikat maut kembali kepada Allah dan berkata, ‘Sesungguhnya Engkau mengutus aku kepada hamba-Mu yang belum mau mati, dan ia mencungkil mataku.’ Allah mengembalikan matanya kemudian berfirman, ‘Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan padanya, apakah kamu ingin hidup? Jika kamu ingin hidup maka letakkan tanganmu pada punggung sapi, dan setiap helai rambut yang ditutup tanganmu maka kamu akan hidup selama setahun.’ Musa berkata, ‘Kemudian apa yang terjadi setlah itu?’ Malaikat berkata, ‘Setelah itu kamu meninggal.’ Maka ketika Musa medekati ajalnya, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku! Dekatkan aku pada Baitul Maqdis dengan jarak sejauh lemparan batu.’” Rasulullah Saw berkata, “Demi Allah! Kalau saja aku di sana niscaya akan ku tunjukkan pada kalian kuburannya di pinggir jalan di bawah bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Adapun hadits yang menunjukkan permintaan Umar ra agar dikuburkan di samping Rasulullah Saw adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari melalui jalur Amru bin Maimun.
Dalam hadits itu disebutkan bahwa Umar berkata kepada Abdullah bin Umar, “Pergilah kepada Aisyah Ummul Mukminin dan katakan, ‘Umar menyampaikan salam padamu jangan kamu katakan Amirul Mukminin, karena sekarang aku bukan lagi Amirul Mukminin dan katakan bahwa Umar bin Khaththab minta izin untuk dikuburkan bersama dengan kedua sahabatnya.’” Ibnu Umar kemudian mengucapkan salam dan meminta izin, lalu masuk. Ketika itu ia mendapati Aisyah sedang duduk dan menangis. Ibnu Umar kemudian berkata, “Umar bin Khaththab mengucapkan salam padamu, dan minta izin untuk dikuburkan berdampingan dengan sahabatnya.” Aisyah menjawab, “Sebetulnya aku sangat menginginkan untuk diriku, namun hari ini aku akan memberikannya untuk Umar.” Ketika Ibnu Umar kembali dari kediaman Aisyah. Orang-orang berkata bahwa Abdullah bin Umar telah datang. Umar berkata, “Bangunkan aku.” Ia kemudian disandarkan kepada seseorang lalu berkata, “Bagaimana?” Ibnu Umar menjawab, “Seperti yang kamu inginkan wahai Amirul Mukminin. Ia mengizinkan.” Umar berkata, “Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku daripada hal itu. Jika aku meninggal maka bawalah aku padanya, kemudian ucapkan salam lalu katakan, ‘Umar bin Khaththab minta izin.’ Jika ia mengizinkanku, maka masukanlah aku dan jika ia menolakku maka bawalah aku ke kuburan kaum Muslimin.’”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Jumat, 10 April 2020

Menyalatkan dan Mendoakan Kedua Orang Tua


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Menyalatkan dan Mendoakan Kedua Orang Tua dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul keenam dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Mengkafani Orang Tua dengan Baik”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Bertekadlah menyalatkan kedua orang tua ketika meninggal dan ikhlas mendoakannya, serta berusaha semaksimal mungkin agar banyak yang menyalatinya. Disebutkan dalam Shahih Muslim dari hadits Aisyah ra dari Nabi Saw berkata, “Tidak ada seorang yang meninggal dunia, kemudian dishalati oleh kaum Muslimin sebanyak 100 orang dan memintakan syafaat padanya, kecuali ia diberi syafaat.” (HR. Muslim)

Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Kuraib, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas, bahwa anak beliau meninggal di Qudaid atau di Usfan. Kemudian Ibnu Abbas berkata, “Wahai Kuraib, Lihatlah! Orang-orang telah berkumpul.” Kuraib berkata, “Kemudian aku keluar, ternyata orang-orang telah berkumpul untuk menyalatinya. Lalu aku memberitahu Ibnu Abbas, kemudian ia berkata’Kamu ‘Ya.’ Setelah itu beliau berkata, ‘Keluarkanlah jenazah ini untuk dishalati, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘TIdak ada seorang Muslim yang meninggal, lalu jenazahnya dishalati oleh 40 orang yang tidak mempersekutukan sesuatu dengan Allah, melainkan Allah akan memperkenankan syafaat mereka terhadap yang meninggal.’” (HR. Muslim).

Jika memungkinkan, sebaiknya si anak menjadi imam dalam menyalati bapak atau ibunya, selama tidak terdapat imam yang ditunjuk oleh kaum Muslimin, atau yang menempati posisinya.

Adapun dalil yang menunjukkan dianjurkannya anak menyalati kedua orang tuanya sebagai imam adalah firman Allah Swt, “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di salam Kitab Allah.” (Al-Anfal[8]:75)

Biasanya seorang anak lebih ikhlas dalam mendoakan kedua orang tuanya, dan Allah Swt mengetahui hal itu.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Kamis, 09 April 2020

Mengkafani Orang Tua dengan Baik


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Mengkafani Orang Tua dengan Baik dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul kelima dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Memandikannya dengan Baik”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Demikian pula ketika mengkafani kedua orang tua hendaklah dengan baik tanpa berlebihan.
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim melalui jalur Abu Az-Zubair bawa ia mendengar Jabir bin Abdullah bercerita, “Suatu hari Nabi Saw menyampaikan khutbah, lalu beliau menyebutkan bahwa seorang laki-laki dari salah satu sahabatnya meninggal, kemudian dia dikafani dengan kain kafan yang pendek (tidak cukup untuk menutup seluruh tubuhnya) dan dikuburkan pada malam hari. Kemudian Rasulullah Saw melarang untuk mengkuburkan seseorang pada malam hari hingga ia dishalatkan, kecuali jika dalam keadaan mendesak. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Jika seorang  di antara kalian mengkafani saudaranya, hendaklah memperbaiki cara mengkafaninya.”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Selasa, 07 April 2020

Memandikannya dengan Baik


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Memandikannya dengan Baik dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul keempat dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Berhati-hatilah,Sesungguhnya Orang Mati akan Disiksa karena Ratapan (Berlebihan) Anda”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Ketika memandikan mayat, Rasulullah Saw memulai dengan bagian kanan dan anggota wudhu, kemudian menyiramkan air pada semua badan dengan menggunakan daun bidara pada mandi pertama, kemudian menggunakan kafur (minyak wangi) pada mandi yang terakhir.”2 Jika tidak ada daun bidara dan kapur, boleh dengan menggunakan yang dapat menggantikannya.

Pilihlah orang yang bisa menjaga amanah dan tahu cara memandikan mayat untuk memandikan mayat keluarga. Jika Ibu Anda yang meninggal, maka pilihlah wanita salehah yang tahu cara memandikan mayat untuk memandikannya.

Tutupilah segala yang Nampak (berupa aib) pada kedua orang tua dan semua orang mati ketika memandikannya, dan jangan beberkan kepada orang-orang tentang hal yang Nampak dari mereka. Seorang mukmin terhormat ketika masih hidup maupun setelah meninggalnya.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Senin, 06 April 2020

Berhati-hatilah, Sesungguhnya Orang Mati akan Disiksa karena Ratapan (Berlebihan) Anda


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul Berhati-hatilah, Sesungguhnya Orang Mati akan Disiksa karena Ratapan (Berlebihan) Anda dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.
Tulisan ini merupakan judul kedua dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul Tidak Meratapinya ketika Meninggal”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Orang yang meninggal akan mendapatkan siksaan jika ada orang yang meratapinya, karena itu, berhati-hatilah dalam meratap. Apalagi, jika ratapan itu sudah menjadi kebiasaannya sebelum dia meninggal.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Umar ra. dari Nabi Saw, “Orang mati akan disiksa di kuburan karena ada yang meratapinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya orang mati akan di siksa karena ditangisi oleh keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tangisan yang dimaksud dalam hadits ini ialah tangisan yang disertai ratapan. Wallahu a’lam.
Adapun tangisan yang diwujudkan dalam tetesan air mata dan sebagai ungkapan hati yang sedih, maka hal itu tidak mengapa.

Dalil yang menunjukkan hal tersebut sangat banyak, akan tetapi saya hanya menyebutkan salah satunya saja. Yaitu hadits yang diriwayatkan Bukhari dari hadits Anas ra, ia berkata, “Aku dan Rasulullah Saw datang kepada Abu Saif Al-Qayyin. Dia adalah suami dari istri yang menyusui Ibrahim (putra Nabi Muhammad Saw). Lalu Rasulullah Saw mengambil Ibrahim kemudian menciumnya. Setelah itu aku masuk dan Ibrahim sedang mengembuskan nafas terakhirnya, sehingga Rasulullah Saw mengalirkan air mata. Maka Abdurrahman bin Auf ra berkata padanya, ‘Kamu juga bersedih wahai Rasulullah’

Rasulullah Saw berkata, “Wahai Ibnu Auf! Itu adalah kelembutan hati bapak terhadap anak.’
Kemudian sahabat yang lainnya juga ikut menangis, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, dan kami tidak bisa mengucapkan kecuali yang diridhai Tuhan kami. Sesungguhnya kematianmu wahai Ibrahim sungguh menyedihkan kami.” (HR. Bukhari)

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Selasa, 31 Maret 2020

Tidak Meratapinya ketika Meninggal


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan lanjutan berjudul “Tidak Meratapinya ketika Meninggal” dari sebuah buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Tulisan ini merupakan judul kedua dari bagian pertama “Mengantar Pergi ke Alam Baka” setelah tulisan yang berjudul “Mentalqin Orang Tua saat Sakaratul Maut”. Berikut ini adalah tulisan secara lengkapnya.

Wahai kaum wanita, hindarilah meratapi kedua orang tuamu ketika meninggal. Dalam hadits berikut ini terdapat pelajaran.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra. bahwa Nabi Saw bersabda, “Pada umatku, terdapat 4 kejahiliyahan umat terdahulu yang belum mereka tinggalkan, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratap.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka pada hari kiamat ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter dan pakaian dari api.”
Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Jika orang yang meratap tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Diriwayatkan pula oleh Hakim dengan lafal, “Terdapat empat kejahiliyahan umat yang belum ditinggalkan oleh umatku, yaitu membanggakan leluhur, mencela keturunan, meminta hujan melalui bintang, dan meratapi mayat. Orang yang meratap jika tidak bertaubat sebelum matinya, maka ia dibangkitkan dengan baju kurung dari ter, kemudian dididihkan diatasnya pakaian dari api yang bergejolak.”

Kemudian disebutkan dalam suatu hadits bahwa ratapan terhadap orang yang meninggal akan memasukkan setan ke dalam rumah, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. bahwa ia berkata, ‘Orang asing di tempat pengasingan.’ Aku akan menangis dengan meratap, dan aku sudah bersiap menangisinya. Kemudian datang seorang perempuan dari Sha’id yang ingin membantuku dalam menangis dan meratpa, maka Rasulullah Saw datang dan berkata, ‘Apakah kamu ingi memasukkan setan yang telah diusir oleh Allah ke dalam rumah? Rasulullah Saw mengucapkannya dua kali sehingga aku berhenti menangis. Demikian pula bahwa Nabi Muhammad Saw kadang mengambil baiat untuk meninggalkan ratapan, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Ummu Athiyah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Saw membaiat kami untuk tidak meratap, dan tidak ada perempuan di antara kami yang melaksanakanya kecuali lima orang, yaitu: Ummu Sulaim, Ummu ‘Ala’, Putri Abu Subrah (istri Mua’adz), dan dua perempuan lainnya. Atau putri Subrah, istri Mu’adz dan seorang perempuan lainnya.”

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Kamis, 26 Maret 2020

Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut


gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, pada kesempatan kali ini Saya ingin membagikan sebuah tulisan dari buku karya Abu Abdullah Musthafa yang berjudul Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?.

Judul diatas merupakan garis besar dari isi buku tersebut, dan terdiri dari bagian judul atau sub judul dengan lebih rinci lagi. Untuk tulisan yang akan saya bagi disini merupakan bagian dari sub judul “Mengantar Pergi ke Alam Baka” yang terdiri dari beberapa judul yang lebih rinci lagi. Judul yang pertama adalah “Mentalqin Orang Tua Saat Sakaratul Maut”, yang isinya adalah sebagai berikut:    
Kami menyebutkan bahwa diantara yang harus dilakukan orang yang hidup terhadap orang yang mengalami sakaratul maut adalah mentalqin dengan ucapan la ilaha illallah, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Talqinkanlah orang yang mengalami sakarat di antara kalian dengan la ilaha illallah.” (HR.Muslim).

Juga sabda beliau, “Barang siapa di akhir hidupnya mengucapkan la ilaha illallah, dijamin masuk surga.” (HR. Ahmad)

Kami juga menyebutkan bahwa orang yang hadir, sebaiknya memperbanyak doa terhadap orang yang mengalami sakaratul maut dan terhadap diri mereka. Karena ketika itu malaikat mengamini apa yang mereka ucapkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Shahih Muslim dari Ummu Salamah yang berkata, “Rasulullah mendatangi Abu Salamah, ketika Abu Salamah meninggal dalam keadaan pandangan matanya keatas. Kemudian beliau menutup Abu Salamah, dan berkata, “Sesungguhnya jika ruh dicabut, maka mata memandang ke mana perginya.” Setelah itu terjadi kegaduhan pada keluarga Abu Salamah. Maka Rasulullah berkata, “Janganlah kalian berdoa kecuali dengan doa-doa kebaikan, karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Setelah itu beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya bersama dengan orang-orang yang mendapat petunjuk, dan gantilah dirinya dengan seseorang yang lebik baik bagi keluarganya, dan ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam. Luaskanlah kuburnya, dan terangilah kuburannya.” Pada waktu malaikat menyaksikannya.

Untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang saleh, hendaklah mengingat firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami ialah Allah, ‘kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan),’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu berasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat [41]:30-32)

Demikian pula menenangkan mereka dengan firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus[10]:62-62)
Mereka tidak khawatir terhadap masa depan. Mereka tidak bersedih terhadap yang telah lewat.

Demikian pula untuk menenangkan orang yang beriman atas meninggalnya keluarga mereka yang Mukmin, Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya hamba yang beriman jika hendak meninggal dunia dan akan menghadap akhirat, padanya malaikat turun dari langit dengan wajah yang putih. Wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari Surga hingga mereka duduk sejauh pandangan matanya. Setelah itu malaikat maut darang dan duduk di dekat kepalanya lalu berkata. “Wahai jiwa yang tenang! Keluarlah kepada ampunan dan keridhaan Tuhanmu.’ Ruh itu keluar seperti air yang mengalir dari bibir tempat air minum. Kemudian malaikat maut mengambilnya. Jika malaikat telah mengambilnya, maka dia tidak akan melepaskannya sebentar pun. Kemudian malaikat-malaikat yang lain mengambil ruh tersebut dan meletakannya di dalam kafan dan kotak wewangian. Lalu ruh tersebut keluar dari kotak itu dalam keadaan beraroma misik yang sangat harum dan tidak pernah ada di muka bumi.”
Nabi Muhammad berkata, “Lalu malaikat-malaikat membawanya ke langit. Setiap kali melewati sekumpulan malaikat, mereka berkata, ‘Ruh siapakah yang mengeluarkan aroma wangi ini?’

Malaikat yang membawa ruh berkata, ‘Kepunyaan Fulan bin Fulan.’ Mereka menyebut nama paling bagus yang pernah mereka dengar ketika di dunia. Malaikat yang membawa ruh terus berjalan hingga sampai pada langit dunia. Ketika berada di langit dunia, mereka meminta kepada malaikat penjaga langit untuk dibukakan pintu langit. Lalu malaikat penjaga langit pun membukanya dan mengantarnya ke langit-langit berikutnya, sampai pada langit ketujuh. Lalu Allah Swt berfirman, ‘Tulislah amalan hamba-Ku dalam illiyin (kitab amalan) kemudian kembalikanlah ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah, dan akan mengeluarkan kembali dari tanah.’ Maka ruh itu dikembalikan kepada jasadnya, lalu didatangi oleh dua malaikat dan mendudukkannya. 

Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Tuhanmu?’
Dia menjawab, ‘Allah Tuhanku’
Malaikat bertanya, ‘Apa agamamu?’
Dia menjawab, ‘Agamaku Islam’
Malaikat bertanya, ‘Siapa Rasul yang diutus kepadamu?’
Dia menjawab, ‘Muhammad Rasul Allah.’
Malaikat bertanya, ‘Siapa yang mengajarimu?’
Dia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah, lalu aku beriman dan percaya padanya.’
Kemudian Allah berseru di langit bahwa hambanya benar, maka berilah permadani dan pakaian dari surga, serta bukakanlah pintu surga baginya. Lalu diberi bau dan keharuman surga, serta kuburannya diluaskan sejauh pandangan mata. Kemudian ia didatangi oleh orang yang berparas gagah, indah pakaiannya, harum baunya lalu berkata,’Aku akan memberikan sebuah kabar gembira yang dapat menyenangkanmu pada hari yang dulu kamu pernah dijanjikan.’
Dia menjawab, ‘Kamu siapa? Datang membawa berita baik.’
Orang yang datang menjawab, ‘ Aku adalah amal baikmu.’
Dia berkata, ‘Ya Allah! Laksanakanlah kiamat hingga aku bisa kembali pada keluarga dan hartaku.’

Adapun jika kematian keluarga mereka karena sakit perut, terbakar, wabah, ditimpa rumah yang roboh, tertabrak mobil lalu mati, atau perempuan yang mati dalam keadaan melahirkan, maka keluarga mereka dapat ditenangkan dengan sabda Rasulullah Saw yang mengatakan, ‘Orang yang mati syahid ada 5, yaitu orang yang meninggal karena wabah, sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan, dan mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat Malik dan Abu Daud serta lainnya, dari Jabir bin Atik disebutkan, “Orang yang mati syahid ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah.” Kemudian menyebutkan seperti pada hadits diatas dan menambahkan, “Dan orang yang bernanah pada bagian perut, serta perempuan yang mati karena melahirkan.” (HR. Malik dan Abu Daud)

Adapun jika mati syahid dalam medan perang melawan orang kafir, maka keluarga dapat ditenangkan dengan mengatakan bahwa mereka yang meninggal itu mendapatkan pahala yang besar dan kehidupan yang kekal. Allah Swt berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]:169-171)

Demikian pula firmat Allah Swt, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya,” (Al-Baqarah [2]:154)
Dalam surga terdapat tempat yang mulia serta derajat dan kedudukan yang tinggi. Ruh-ruh para syahid berada dalam paruh burung-burung hijau, bebas bergerak ke mana pun ia kehendaki.

Diriwayatkan oleh Muslim melalui jalur Masruq berkata bahwa kami pernah bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang firman Allah Swt, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (Ali Imran [3]:169). Ibnu Mas’ud menjawab, “Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw dan beliau mengatakan, ‘Ruh mereka berada dalam perut burung yang berwarna hijau, bertengger di atas pelita-pelita yang tergantung di Arasy. Bebas bergerak di surga sesuai keinginannya, kemudian kembali ke pelita tersebut. Setelah itu Tuhan mendatangi mereka lalu berkata, ‘Apakah kamu menginginkan sesuatu?’ Mereka berkata, ‘Apa lagi yang kami inginkan? Sedangkan kami bebas bergerak di surga sesuai keinginan kami.’ Allah melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka mesti meminta, maka mereka berkata, ‘Wahai Tuhanku! Kami ingin Engkau mengembalikan ruh kami pada jasad kami, sehingga kami bisa berperang di jalan-Mu sekali lagi.’ Ketika Allah melihat tidak ada gunanya memaksa mereka meminta, maka mereka dibiarkan.”

Demikian pula bahwa orang yang mati syahid dapat memberi syafaat terhadap kerabat dan keamanan pada hari kebangkitan dari kubur. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya dari hadis Al Miqdam bin Ma’dikarb berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orang yamg mati syahid memperoleh enam hal di sisi Allah, yaitu diampuni dosanya pada langkah pertama, melihat tempatnya di surga, bebas dari siksa kubur, merasa aman pada hari terjadinya huru hara terbesar, diletakkan mahkota permata kewibawaan diatas kepalanya, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan dapat memberi syafaat tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Rabu, 25 Maret 2020

DAFTAR ISI BUKU


A.     MENGANTAR PERGI KE ALAM BAKA

B.      BERBAKTI UNTUK ORANG TUA YANG SUDAH DI ALAM BAKA
2.      Melunasi Hutang Kedua Orang Tua
3.      Umar Mewasiatkan kepada Anaknya untuk Melunasi Hutangnya
4.      Sedekah Jariyah
5.      Sedekah Jariyah yang Paling Utama adalah Memberi Air Minum
6.      Berpuasa untuk Kedua Orang Tua
7.      Menghajikan Kedua Orang Tua
8.      Mengumrohkan Kedua Orang Tua
9.      Menunaikan Nazar Orang Tua
10.  Meminta Keridhaan Musuh
11.  Tidak Berdandan bagi Perempuan Ketika Kedua Orang Tuanya Meninggal
12.  Orang Mukmin Tidak Mewarisi Orang Kafir dan Orang Kafir Tidak Mewarisi Orang Mukmin
13.  Menyambung Silaturahmi dengan Keluarga sahabat Bapak
14.  Menjalin Silaturahmi
15.  Melanjutkan Kebaikan yang Biasa Dilakukan oleh Orang Tua
16.  Mengingat Kebaikan Kedua Orang Tua dan Mengikuti Jalan Orang-Orang Saleh
17.  Menggantikan Posisi Orang Tua
18.  Kesetiaan
19.  Menunaikan Janji Kedua Orang Tua
20.  Penghormatan Terhadap Orang Tua karena Kebaikan Anaknya
21.  Memperbaiki Apa yang Dirusak oleh Orang Tua
22.  Hukum Berwasiat untuk Kedua Orang Tua
23.  Menutup Aib Kedua Orang Tua
24.  Memberi Hadiah (Bacaan Al-Qur’an) untuk Kedua Orang Tua
25.  Penutup

C.      TUNTUNAN LENGKAP ZIARAH KUBUR (SEBUAH SUPLEMEN)
1.      Arti Penting Ziarah
2.      Adab/Etika Ziarah Kubur
3.      Praktek dan Bacaan Ziarah Kubur
4.      Bacaan Ziarah Kubur Pilihan, Pertama
5.      Bacaan Ziarah Kubur Pilihan, Kedua
6.      Ziarah pada Malam Hari
7.      Doa Tahlil, Doa untuk Ziarah juga

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Senin, 09 Maret 2020

Apa yang Bisa Kita Persembahkan Untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?

gihanaberbagi.blogspot.com. Sahabat blogger, mungkin diantara Sahabat terutama yang sudah tidak punya orang tua ada yang merasakan kebingungan apa yang harus dilakukan ketika orang tua sudah wafat. Padahal semasa hidupnya orang tua kita terkadang terabaikan haknya, bahkan mungkin tidak pernah sama sekali kita bisa berbakti pada orang tua. Maka dari itu Saya mencoba ingin membagikan sebuah tulisan yang bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kita yang sudah tidak mempunyai orang tua. Tulisan ini merupakan karangan karya seorang penulis bernama Abu Abdullah Musthafa Bin Al-‘Adawi, yang berjudul “Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?”.

Pada kesempatan ini Saya cuman ingin membagi tulisan pengantar dari seorang penulis terkait buku diatas, yang secara lengkapnya akan saya dibawah ini.

Segala puji bagi Allah. Kita senantiasa memuji dan meminta pertolongan-Nya, juga memohon perlindungan kepada-Nya dari segala keburukan diri dan kejelakan usaha kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selai Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bawa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Banyak diantara orang-orang baik, mulia dan bertaqwa bertanya-tanya, apa yang kita persembahkan kepada orang tua setelah mereka meninggal? Bapak memiliki keutamaan, demikian pula Ibu mempunyai keutamaan. Bapak memiliki hak dan Ibu pun memiliki hak. Mereka telah mendidik dan memelihara kita sejak kecil hingga dewasa, sehingga tidak pantas bagi kita melupakan akan hak dan keutamaan mereka.

Bagaimana kita bisa melupakan hak-hak mereka, sementara hak-hak mereka merupakan hak terbesar setelah hak Allah dan Rasulnya. Bagaimana kita bisa melupakan hak mereka sedang Allah Swt telah berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra : 23)

Demikian pula Allah Swt berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang Ibu-Bapak.” (An-Nisa : 36)
Demikian pula Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang Ibu-Bapak.” (Al-An’am : 151)

Dengan demikian, suatu keharusan untuk berbuat baik kepada orang tua semasa hidupnya maupun setelah nya wafat. Maka, sebagai jawaban atas pertanyaan di atas yakni “Apa yang bisa kita perbuat untuk kedua orang tua setelah keduanya wafat”, saya mengatakan bahwa inilah diantara jalan kebaikan dan perbuatan baik yang sampai pahalanya kepada orang tua dengan seizin Allah. Allah akan mengangkat derajat kedua orang tua dengan kebaikan anaknya, menghapuskan dosanya dan menempatkannya dalam keluasan syuga.

Sumber: Musthafa, Abu Abdullah. 2008. Apa yang Bisa Kita Persembahkan untuk Orang Tua yang Sudah Wafat?. Bandung: Pustaka Iiman

Sabtu, 07 Maret 2020

PENDAHULUAN "PERTAMA NULIS DI BLOG"


gihanaberbagi.blogspot.com. Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Sahabat blogger, pertama yang Saya ingin sampaikan adalah rasa syukur karena bisa memulai menulis di blog ini. Alhamdulillah Saya panjatkan Puji dan Syukur kehadirat Allah Swt karena berkat Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, Saya bisa membuat blog dan bisa menulis apapun yang bisa Saya tulis dan berbagi apapun yang bisa Saya bagi, yang penting dengan adanya blog ini bisa membuat hidup lebih bermakna. Bahkan kalau bisa dan berharap seterusnya blog ini ingin menjadi media kebaikan, tentunya yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti Sabda Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Mudah-mudahan dengan hadirnya blog yang Saya buat ini tentunya bisa bermanfaat bagi Sahabat Blogger, sesuai yang di sampaikan dalam hadits tersebut.


Kalau kata peribahasa, “Tak Kenal, Maka Tak Sayang”, ada juga ungkapan yang lain, “Tak Kenal, maka Taaruf”. Hehe.. Tidak ada Salahnya berkenalan terlebih dahulu, biar nanti dapat terjalin pertemanan bahkan bisa menjalin tali persaudaraan. Asal jangan menjalin percintaan ya, karena Saya sudah menikah lho, Hehe..


Perkenalkan nama Saya Friska Natalia, asal dari Palembang, tepatnya Saya tinggal di sebuah Desa yang bernama Pulau Harapan, (mungkin yang kasih nama Desa tersebut sedang punya cita-cita atau harapan yang beragam, saking banyaknya harapan tersebut, bahkan semua orang mungkin harapannya banyak sehingga memerlukan sebuah tempat yang lebih luas sehingga Desa ini dinamakan Pulau Harapan, mungkin dengan nama tersebut harapan mereka kan selalu ada.. Becanda deng.. hehe..).

Kecamatan ditempatku bernama Sembawa, dan Kabupaten nya bernama Banyuasin (ini juga gak tau sebabnya kenapa dikasi nama Banyuasin, apakah mungkin air nya berasa asin? Padahal mah gak asin loh airnya, tawar seperti biasa kok.. Hehe..). Mungkin diantara sahabat blogger mendengar nama tempat tersebut, ada yang merasa aneh? Yah, begitulah nama tempatku. Tempat kelahiranku dari kecil hingga Saya menikah.. Mudah-mudahan ada juga para Sahabat Blogger yang dari daerah sana, sehingga jadi bisa nambah teman bahkan jadi saudara.

Satu hal lagi, ini pertama kali Saya menulis di blog. Jadi pastinya agak kurang percaya diri, perasaan campur aduk, dan tak tahu harus bilang apa. Yang pastinya bilamana dalam konten blog yang Saya buat ini ada kata-kata yang kurang berkenan, Saya minta koreksi dan masukan dari Sahabat Blogger. Pastinya blog ini jauh dari kesempurnaan, dan tidak terlepas dari yang namanya kesalahan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari Sahabat Blogger sangat diharapkan demi kebaikan dan keberlangsungan blog ini.

Akhir kata, Saya ucapkan terimakasih bagi Sahabat Blogger yang sudah berkenan baca tulisan yang sederhana ini, yang jauh dari kata sempurna, yang rentan sekali dengan kesalahan, mohon maaf yang sebesar-besarnya dari hati yang paling dalam. Wassalamu’alaikum, Wr., Wb.